Renungan Hari Kemerdekaan

Merdeka, bagaimana Anda memaknainya? bagi saya merdeka adalah bebas dan menuju arah yang lebih baik. Bebas dari segala yang berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang – orang disekitar kita. Bebas dari segala pikiran, prasangka, tingkah laku, dan perasaan yang buruk.

Sebagai bangsa Indonesia yang baik semoga, saya merayakan kemerdekaan tujuh belas agustus yang lalu dengan berpikir positif di pagi hari. Diruntut dengan kegiatan menyapu, mencuci baju, lalu mengantarkan Ibu ke pasar dan sesekali ikut membantu Ibu memasak walaupun sepertinya tidak cukup membantu. 🙂 Iya saya mulai dengan menyelesaikan kerjaan rumah. Sangat sederhana. Bukankah slogan perayaan kemerdekaan tahun ini adalah ‘Kerja Nyata’. Saya rasa pekerjaan rumah juga berarti ‘bekerja’. Dan itu kerjaan paling terjangkau yang paling mudah ditransformasikan menjadi hal yang nyata, bukan kerja yang hanya menjadi rencana. duh. Rumah bersih, perut kenyang, semua senang, pagi yang damai.

Pagi menuju siang, terdengar suara drum band dan rangkaian sahut pelaksana upacara dari lapangan seberang. Rumah saya cukup dekat dengan lapangan. Suasana dan atmosfer upacara cukup sampai dari dalam rumah. Saya ikut upacara, tapi dikasur dan kemudian KO, tertidur. Saya berhasil membebaskan diri dari kelelahan.

Sepanjang hari itu, saya rasa riuhnya perayaan paling terasa di dunia maya, media sosial penuh hastag #dirgahayuRI #merdeka, dsb. Instagram penuh dengan karya grafis ciamik tentang kemerdekaan, foto aneka pesona Indonesia oleh selebgram beserta deep caption yang menggugah nasionalisme, dan foto selfie pelaku akun – akun instagram yang saya coba pahami dan berusaha menyambungkan dengan caption kemerdekaan yang mereka tulis. Ah sudahlah, abaikan foto selfinya yang penting captionnya (((:

Panggung perayaan tujuh belasan sudah sangat langka di perkampungan, begitu juga di kampung saya, Kampung Sidodadi. Panggungnya tergantikan tikar yang digelar di area depan masjid yang cukup luas. Beberapa ibu-ibu menyiapkan makanan prasmanan, sedangkan Bapak-bapak mengecek sound system dan sibuk menata tempat agar rapi dan muat. Ada Bapak yang bertugas menggiring dan membujuk warga agar mengisi area tengah, saya tidak tahu kenapa orang-orang lebih suka duduk bergerumbul dipinggir. Saya pun duduk ditengah terpengaruh bujukan si Bapak.

Acara berlangsung dengan cukup khidmat malam itu. Walaupun banyak suara anak kecil yang riuh tapi tidak mengurangi esensi dari inti acara selamatan dan syukuran hari kemerdekaan. Berlangsung dengan ringkas, sambutanpun tidak sepanjang sungai brantas. Padat dan jelas. Bersorak ‘Merdeka!” disetiap penghujung naskah sambutan. Berlanjut paduan suara oleh ibu-ibu dengan dramatisasi lampu dipadamkan, digantikan pencahayaan lampu oblek yang memantulkan cahaya kuningnya. Cukup syahdu sekalipun suara para pemadu tidak seharmoni lambaian daun kelapa yang terbuai semilir angin.

Sebagai penutup acara sebelum ramah tamah, sesi yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak adalah pemberian hadiah lomba tujuh belasan. Mulai dari lomba makan krupuk, voli, memasukkan mantan paku ke dalam botol, dsb. Hadiahnya mungkin tidak seberapa tapi serunya yang paling terasa. Membangunkan beberapa mata yang kantuk selain karena alasan malam hari, membuat tersenyum bagi orang tua yang bangga anaknya menjadi pemenang lomba.

Waktu itu berulangkali saya teringat suasana perayaan tujuh belasan beberapa tahun yang lalu. Kira-kira tahun-tahun saat saya masih SD. Para pemuda pemudi kampung yang kompak menjadi EO acara, semangat gotong royong membuat rangkaian acara denganpanggung yang gemerlap sederhana. Antusiasme semua warga, bahkan warga dari kampung-kampung lain ikut menonton. Event yang paling ditunggu-tunggu, dengan serangkaian lomba nya yang semuanya ikut berpartisipasi. Jauh dari masa itu, saya membandingkannya dengan saat ini.

World change, people change, tapi esensi dari perayaan dan peringatan kemerdekaan boleh jadi tidaklah berubah. Tetap mengenang pahlawan atas jasa-jasanya yang sulit saya bayangkan bagaimana perjuangan besarnya, hanya bisa mendoakan mereka. Mempertahankan hal baik yang mereka perjuangkan. Berusaha menumbuhkan keinginan dan beraksi sebagai kontribusi kepada negara. Tentu saja kontribusinya bisa dari kemampuan masing-masing. Meraih medali emas pada Olimpiade cabang olahraga bulutangkis misalnya, bangga sekali saya pada Owi dan Butet (Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir). Atau kalau dari bidang desain bisa dengan men-convert hal baik biar tidak missing kelakukan. Meng-export prinsip dalam resolusi yang besar agar tidak pecah nantinya karena jumlah pixel yang kurang support. Memperjuangkan dan merancang harapan seperti sketsa kasar agar nantinya dapat menjadi final design impian. Memiliki impact yang bagus dan semoga bisa turut mengubah dunia menjadi lebih baik. (Anda boleh mengabaikannya bila tidak paham).

Terakhir, perayaan dan peringatan tujuh belas agustus ditutup dengan pethulo dan surabi berkuah santan. Sungguh, nikmat mana yang kau dustakan 🙂

17
Suasana acara tujuh belasan di Kampung Sidodadi

2 thoughts on “Renungan Hari Kemerdekaan

    • tidak perlu setap hari senin sih, yang penting dilakukan rutin dalam jangka waktu tertentu. Karena menurutku, upacara dapat dibuat latihan dan menumbuhkan nasionalisme

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s