Kata yang menjelma nada

Mungkin saya termasuk penikmat puisi yang ketinggalan update kalau membahas soal musikalisasi puisi. Jadi saya baru ngeh dengan puisi yang di lagukan itu kira-kira tahun 2013 lalu. Waktu itu saya ngopi beberapa lagu indie dari salah seorang ‘teman’.Salah dua dari lagu-lagu itu ada Dua Ibu ā€“ melagukan puisinya pak Sapardi Djoko Damono yang Aku Ingin dan Nokturno, sebagai penikmat puisi saya langsung kepincut dengan dua lagu itu.

Lantunan biola, petikan gitar, syair yang indah, suara yang merdu, sungguh syahdu. Saya penikmat musikalisasi puisi yang pasif karena itu saya tidak terlalu penasaran dengan musikalisasi puisi yang lain. Dua lagu itu masih setia muncul di playlist untuk beberapa kurun terakhir. Tapi kalau diingat-ingat sebenarnya saya sudah tau musikalisasi puisi sejak adanya film AADC dong yah (tahun 2002), kan disitu ada Cinta yang membaca dan menyanyikan puisinya Rangga. Dan kalau ngomongin Rangga yang diperankan Nicholas Saputra, dia juga bacain puisinya Soe Hok Gie di Film Gie (2005). Yah begitulah, ternyata saya tahu sudah cukup lama tapi tidak notice dengan musikalisasi puisi.

Musikalisasi Puisi adalah pembacaan puisi dengan iringan musik atau pemberian titinada atau tangga nada pada baris-baris puisi sehingga puisi tersebut dapat dinyanyikan. (sumber:www.dosenpendidikan.net)

Pada tahun 2016 ini saya menemukan duo band lagi yang melagukan puisinya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Sajak Sajak Kecil Tentang Cinta, mereka adalah Ari-Reda. Musikalisasi Puisi ini menjadi soundtrack film Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Lagi-lagi saya baru ngeh karena saya menonton filmnya terlebih dahulu sebelum kepincut dengan lagu pengiringnya. Saya tahu Ari-Reda dari list band perform yang mengisi acara Folk Music Festival di Malang bulan Mei lalu. Meskipun tidak melihat secara langsung (karena waktu itu mereka tampil siang/sore dan saya baru di tkp malam), akhirnya saya browsing duo itu di youtube. Sebelumnya ada teman yang memberitahu kalau Ari-Reda adalah duo yang me-musikalisasikan puisi, dan saya pun penasaran. Seperti eksptektasi saya, duo ini juga syahdu.

Syair dalam Sajak-Sajak Kecil Tentang menurut saya sangat legit dibagian akhir.

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku

Semacam metafora yang membawa pembaca kemana-mana yang ujung-ujungnya adalah aku. Cerdas sekali, maklumlah yang membuat memang Pak Sapardi šŸ˜€ Oiya, Syair semacam ini mengingatkan saya pada lagunya Maliq D Essentials yang Setapak Sriwedari.

Lihat langit di atas selepas hujan reda
Dan kau lihat pelangi
Seperti kau di sini hadirkan sriwedari
Dalam suka duniawi

Dan kita berpijak lalu
Kau merasakan yang sama sepertiku

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara

Lihat fajar merona memandangi kita
Seakan tahu cerita
Tentang semua rasa yang ingin kita bawa
Tanpa ada rahasia

Dan kita melangkah untuk
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara

Setapak di taman sriwedari
Setapak sriwedari denganmu

Dan kita berpijak lalu
Dan kita melangkah untuk
Lebih jauh lagi, lebih jauh lagi

Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata
Irama hati kita bernada, merayu tanpa bicara
Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara
Seperti puisi tanpa rima, seperti itu aku padamu

Cukup legit juga kan? Kita dibawa kemana-mana dan ujung-ujungnya adalah ke ‘aku’. Aku Padamu. šŸ™‚ Lirik-lirik seperti ini yang membuat saya tertarik dan akhirnya mengingatnya. Tidak semua lagu memiliki lirik yang berupa puisi dan lagu Maliq dibungkus dengan apik, baik nada dan syairnya.

Musikalisasi puisi berawal dari puisi yang dilagukan atau pembacaan diiringi dengan musik saja. Masih banyak musikalisasi puisi lain yang sama bagus yang belum saya tahu. Kalau ada lagi saya share disini. Selamat menikmati dan melagukan aksara.

4 thoughts on “Kata yang menjelma nada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s